Selasa, 6 September 2011
Aku harus berjuang mengatasi kegalauan di hatiku yang kian hari kian menjadi-jadi.. tak jarang aku bertanya, mengapa masalah perasaan dan hati ini tak kunjung selesai? sampai-sampai aku kembali tersudut di tempat yang sama seperti dulu.. pada wajah sialan itu.. pada kenangan indah itu.. pada dua bulan terkutuk itu.. aku benci perasaan ini.
Sering pula malam-malam ku diisi dengan tisu lembab dan kertas penuh coretan yang berserakan di seluruh kamar, padahal isinya hanya kata-kata yang sama.. tentang kamu... ya.. sialan! mengapa selalu kamu? tetapi aku tak pernah sekalipun menunjukkan pada semua orang tentang kesedihanku yang mendalam ini.. karna aku tak mau dikasihani.. aku tak mau semua orang berbalik dan melihatku jatuh tertunduk meratapi jejak langkahmu yang sudah hilang sejak beberapa bulan yang lalu.
Namun.. bagaimanapun juga aku butuh teman.. aku tak bisa selalu menanggung semua sendirian... maka aku selalu berteman dengan air mataku yang selalu tumpah ruah dari setiap sudut mataku tanpa bisa dicegah... sering aku berfikir ini hanya sekedar masalah remaja yang akan menjadi batu pijakanku menuju kedewasan... dan sering pula aku menasihati teman-temanku seperti itu.. lalu mereka akan bangkit perlahan... nasihat itu manjur untuk mereka... tapi untukku? aku tidak pernah bangkit... jikalau aku berpacaran dengan pria lain... bukan karena aku bangkit.. aku hanya ingin terlihat bangkit... sudah kubilang bukan kalau aku tak ingin dikasihani?
Aku mencintai Tuhan karena telah memberiku air mata... karena hanya dengan air matalah aku bisa mengungkapkan apa yg tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata... menguraikan apa yang tidak bisa diuraikan dengan amarah.. bahkan memberikan keseimbangan bagi jiwa jiwa yang sudah hilang setengahnya... seperti jiwaku.. yang kau potong dan kau telan kedalam dirimu... air mata yang tumpah.. selalu bisa membuatku menjadi lebih tenang saat mengingatmu..
Aku ingat betapa seringnya aku berkata "cinta itu emang buta, tapi kita harus punya mata" dan nasihat itu selalu manjur untuk sahabat-sahabatku.. tapi mengapa tidak untukku? padahal aku yang mengatakan hal tersebut.. mengapa? mengapa tiap kupejamkan mataku justru kamu yang terlihat? mengapa tiap kubuka mataku selalu ada bayanganmu di sudut mataku? mengapa tiap aku bermimpi selalu ada kamu? mengapa tiap aku terdiam aku selalu teringat padamu? mengapa tiap aku menulis aku selalu menulis namamu tanpa sadar? mengapa? sialan! katakan padaku mengapa!
Aku yang sekarang seolah-olah boneka.. mati.. namun bedanya aku masih memiliki perasaan... perasaan yang terlalu sakit untuk dirasakan.. dan terlalu menyedihkan untuk dihadapi... aku hanya bisa menikmati rasa sakit itu sendirian.. berulang kali kukecap pahitnya dan aku suka.. karena ada kamu di dalamnya.. kamu ada dan terasa di dalamnya.. aku suka itu.. seberapapun sakitnya.
Aku terlalu bingung dan tersesat dalam usahaku mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku ini.. aku MENCINTAIMU.. sangat.. dan aku membencimu karenanya.. aku sudah kalah... ya Tuhan... aku kalah.. kalah oleh perasaanku sendiri yang demikian memberontak untuk disembuhkan dari kesakitan yang teramat sangat.
Maka biarkanlah aku tergolek seperti boneka yang terluka, yang sekujur tubuhnya sudah robek dan isinya berserakan dimana-mana... biarkan aku menangis sendirian di tengah gelap malam yang menembus jendela kamarku... biarkan aku menangis hingga lelah dan terlelap sampai pagi harinya... Karena aku yakin sinar pagi akan memaksaku menjalani hidupku di hari itu sebelum aku menghuni kamar itu lagi... kamar yang selalu membuka tangannya lebar-lebar dan memelukku kala kesedihan kian dalam itu kembali menyergapku.
ditulis untuk kamu.. yang terlalu indah dan tabu untuk diucapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar